Beritamerdeka.co.id – Kasus tuberkulosis (TBC) di Kabupaten Tegal telah mencapai 6.034 kasus (data per 15 Agustus 2026). Di tengah tingginya angka tersebut, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tegal mengingatkan masyarakat agar tidak memberikan stigma maupun mengucilkan penderita TBC.
Plt Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tegal, Edy Sucipto, SKM.,M.Si melalui Kepala UPT Laboratorium Kesehatan Kabupaten Tegal, Amin Yunianto, S.ST., SH., MM, mengatakan pihaknya terus berupaya membantu penderita TBC hingga sembuh melalui pendampingan dan pengobatan secara gratis.
Hal itu disampaikan Amin Yunianto, S.ST., SH., MM, saat ditemui Beritamerdeka.co.id, di ruang kerjanya, Selasa (18/8/2026).
Menurutnya, pengobatan TBC membutuhkan waktu dan kedisiplinan pasien. Karena itu, dukungan keluarga serta lingkungan sekitar sangat penting agar penderita dapat menjalani pengobatan secara tuntas.
“Jangan sampai penderita TBC dikucilkan. Justru harus kita dampingi supaya mereka bisa cepat sembuh,” ujar Amin, yang juga merupakan Plt Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinkes Kabupaten Tegal.
Ia menegaskan, pemerintah tidak dapat bekerja sendiri dalam menangani persoalan TBC. Peran aktif masyarakat diperlukan, terutama dalam memberikan dukungan kepada pasien agar tidak berhenti menjalani pengobatan.
Dinkes Kabupaten Tegal memberikan pengobatan TBC secara gratis selama enam bulan, disertai pendampingan untuk memastikan pasien menjalani pengobatan sesuai ketentuan.
“Sinergi antara pemerintah dan masyarakat itu penting. Dengan dukungan bersama, penderita bisa lebih termotivasi untuk menyelesaikan pengobatan sampai tuntas,” katanya.
Selain melalui tenaga kesehatan, Dinkes Kabupaten Tegal juga menggandeng kepolisian, khususnya Bhabinkamtibmas dalam upaya penanggulangan TBC di masyarakat.
Kolaborasi tersebut dilakukan melalui sosialisasi mengenai TBC, pendampingan terhadap pasien, serta edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya pencegahan dan pengobatan TBC.
Amin berharap keterlibatan berbagai unsur tersebut dapat meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa TBC merupakan penyakit yang dapat diobati. Menurutnya, penderita membutuhkan dukungan, bukan stigma.
“Jadi jangan takut dan jangan mengucilkan penderita. Yang terpenting adalah mereka mau berobat dan pengobatannya dilakukan secara teratur sampai selesai,” pungkasnya.***















